Search
  • Reynitta Poerwito

Hidup lebih tenang tanpa ekspektasi



Selama praktek, seringkali menemukan kasus anxiety dan depresi yang berhubungan dengan tingginya ekspektasi pasien dengan kenyataan yang tidak sesuai. Hal itu kemudian menyebabkan tekanan dan stress yang besar sehingga beberapa pasien tidak kuat untuk menanggungnya. Beberapa pasien mengaku bahwa setiap bangun tidur ia merasa berat dan tidak ingin menjalani harinya karena situasinya tidak berubah sesuai dengan keinginanya.


Ekspektasi sepertinya sudah menjadi bagian dari hidup kita. Karena sewaktu kecil sebagian dari kita juga telah mengenal dalam yang namanya ekspektasi dari orangtua. Ekspektasi orang lain pastinya membawa beban apalagi datangnya dari orangtua sendiri. Rasanya kecewa sekali ketika kita tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.


Kemudian ketika dewasa, kita mulai memiliki ekspektasi kepada orang lain, situasi dan diri sendiri. Ternyata selama kita berekspektasi, kita juga dekat dengan yang namanya kekecewaan. Kekecewaan membawa rasa marah, sakit hati, kesedihan dan lain sebagainya.


Lalu bagaimana memulai hidup tanpa ekspektasi?



Berani untuk melihat kenyataannya. Memanipulasi situasi ke dalam ekspektasi kita contohnya seperti pemikiran "ah nanti ketika punya anak suami juga akan berubah menjadi lebih baik kok". Kita harus mengerti bahwa situasi maupun orang lain adalah 2 hal yang tidak bisa kita kontrol. Sehingga tidak akan ada perubahan yang bisa kita lakukan ke orang lain kalau orang tersebut tidak memiliki keinginan untuk berubah.


Sebuah situasi pasti memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Bila merasa terpojok dan tidak menemukan jalan keluar pada masalah yang sedang dihadapi, cobalah untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin tidak menyelesaikan masalah, tapi bisa membawa perasaan yang lebih tenang karena lebih dapat menerima kenyataan sebenarnya dengan lebih baik.


Kenapa kita harus bisa menerima kenyataan padahal sangat tidak mengenakkan hati? Karena situasi yang tidak ideal adalah situasi yang normal. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sempurna, jadi kalau kita menemukan situasi yang tidak sempurna, itu adalah hal yang normal. Justru harus curiga dengan situasi yang "too good to be true" biasanya akan ada suatu hal mengejutkan dibalik kesempurnaan itu.


Selamatkan diri kita sendiri dari kekecewaan dan sakit hati yang bisa menyebabkan masalah kejiwaan yang intens. Belajar untuk menerima kenyataan itu lebih baik daripada hidup dalam mimpi.




Reality is not as beautiful as a dream. But that's the only place where you live. So live your reality beautifully.




Semoga bermanfaat :)

12 views

© Reynitta Poerwito

reynittapoerwito@gmail.com

  • Twitter - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
  • Instagram - Black Circle