Search
  • Reynitta Poerwito

5 Signs of Toxic Relationship



Aku pernah berada di dalam sebuah hubungan yang toxic! Sekarang baru ngeh kalau itu namanya hubungan toxic tetapi waktu dulu aku cuma merasa sangat tertekan dan hampir setiap hari aku merasa sedih, tetapi anehnya sulit banget waktu itu untuk keluar dari hubungan tersebut. Alasannya banyak banget, ya masih sayang lah, ga mau jadi jomblo, berpikir kalau setiap orang punya kekurangan sehingga kalau cinta ya harusnya bisa menerima saja semua itu, dan berbagai alasan yang pada akhirnya membuatku hilang motivasi dan bergantung kepada pasanganku.


Rasanya gak enak banget waktu itu. Banyak perasaan bersalah, merasa ga bisa membahagiakan pasangan, benci sama diri sendiri kenapa gak bisa menjadi sesuai dengan keinginan pasangan dan perasaan negatif lainnya. Ternyata aku baru tau bahwa aku terlibat di dalam hubungan yang toxic.


Cirinya banyak banget. Antara lain adalah:

1. Pasangan posesif dan cemburuan

Sama temen cowo cemburu, sama sahabat CEWE pun cemburu. Punya prasangka buruk terus dan menuduh hal-hal yang tidak sesuai sama faktanya. Pokoknya kalau bukan sama dia, pasti dicemburuin. Aku pikir dulu rasa cemburu ini datangnya karena cinta yang berlebihan. Jadi aku juga merasa seneng dicemburuin pada saat itu.


2. Overcontrolling/dominant partner

Apa-apa harus ikut maunya dia. Gak boleh ini-itu, kalau mau ngapa-ngapain harus ngomong. Dimana, sama siapa aja, pulang jam berapa, mau ngapain aja, dan lain sebagainya. Rasanya kayak jadi tahanan seseorang yang semuanya harus melapor. Pokoknya semuanya harus sesuai dengan keinginan dan caranya dia aja. Aku gak pernah punya suara.


3. Overcritical and attacking your self esteem

Nah ini yang paling bikin aku benci diri sendiri and having self doubts. Dia selalu nemu aja kesalahan walau aku gak ngerasa salah. Pakai baju aja bisa salah, cara ngomong, bahkan bereaksi juga harus ada syaratnya. Aku pikir dia hanya menginginkan yang terbaik dari aku, jadi untuk 2 tahun pertama aku coba ikutin dan percaya semua omongannya, tetapi ternyata selalu ada lagi kesalahan baru yang lain. OMG, bener bener bikin stress!


4. Tidak ada waktu untuk diri sendiri

Karena semuanya berputar mengelilingi dunianya dia seorang, maka aku dulu gak pernah punya waktu untuk diri sendiri. Kalau dia sibuk pun, aku ga boleh kemana-mana tanpa seijin dia.


5. Berharap untuk berubah

Pada akhirnya aku cuma bisa berharap bahwa semeday he will change! Aku terus berusaha untuk menunjukkan bahwa kalau aku bisa nurutin dia pasti dia akan menjadi orang yang seperti aku mau juga. Terus berharap padahal gak pernah kesampaian. Yang ada malah jadi tambah stress dan tertekan yang pada akhirnya mengantarkan aku pada kondisi depresi.


Narasi diatas merupakan sebuah cerita yang saya dapatkan dari seorang pasien beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya juga banyak sekali pasien datang untuk bercerita mengenai ketidaknyamanannya berada di dalam sebuah hubungan namun memiliki kesulitan untuk melepaskan hubungan itu. Toxic relationship memang bisa menghancurkan seseorang apabila tidak segera mengambil tindakan menyelamatkan diri. Seringnya kesulitan untuk keluar dari hubungan toxic berkaitan erat dengan LIFE TRAPS. Apa yang dimaksud dengan life traps? Bisa dibaca disini ya.


Membaca pemikiran yang dituangkan dalam narasi diatas ternyata banyak sekali mitos yang dipercaya sehingga membuat seseorang sulit keluar dari sebuah hubungan yang toxic.


Contohnya adalah:

1. Cemburu tanda cinta yang berlebihan.

2. Mencari kesalahan sebagai tanda bahwa dia ingin kamu berubah menjadi orang yang lebih baik.

3. Bahwa orang tersebut bisa berubah.


Mitos-mitos itulah yang membuat seseorang bisa terjebak di dalam sebuah hubungan yang toxic untuk jangka waktu yang cukup lama. Sampai pada akhirnya tidak kuat lagi dan tekanannya sudah berbahaya bagi kondisi mentalnya. Sekarang waktunya menganalisa hubunganmu dengan pasangan. Apakah saat ini kondisi hubunganmu mengarah kepada toxic relationship? Jangan berlama-lama bertahan di sebuah hubungan yang tidak nyaman. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membiarkan kita menjadi diri kita sendiri dan berkembang ke arah yang lebih positif bersama-sama dengan pasangan.

14 views

Recent Posts

See All

Hidup lebih tenang tanpa ekspektasi

Selama praktek, seringkali menemukan kasus anxiety dan depresi yang berhubungan dengan tingginya ekspektasi pasien dengan kenyataan yang tidak sesuai. Hal itu kemudian menyebabkan tekanan dan stress y

© Reynitta Poerwito

reynittapoerwito@gmail.com

  • Twitter - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
  • Instagram - Black Circle